BANGKITLAH SAUDARAKU…

November 27, 2007

Kebangkitan Islam yang Pertama Dalam Segi Peperangan

Filed under: Uncategorized

a. Perang Badar
Perang Badar, berawal dari terisarnya kabar tentang rencana datangnya kafilah dagang Quraisy dibawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb. Mendengar hal tersebut, Rosullullah saw mengajak kaum msulimin untuk mencegat dan merampas kafilah dagang tersebut, sebagai ganti atas kekayaan mereka yang dirampas sebagian kaum Musyrikin di Mekah. Anjuran ini disambut baik oleh sebagian kaum Muslimin karena mereka tidak menyangka akan terjadi peperangan.
Di tengah perjalanan, Abu Sufyan mendengar bahwa kafilahnya akan dihadang oleh pasukan nabi saw. Setelah mendengar hal ini, seluruh kaum Quraisy keluar untuk memberi bala bantuan kepada kafilah dagang tersebut. Tidak seorang pun petinggi Quraisy yang tertinggal sehingga sampai berjumlah lebih dari seribu orang.
Sementara itu, menurut riwayat Ibnu Ishaq, Rosullullah keluar bersama 314 sahabatnya pada suatu malam di bulan Rhamadan dengan membawa 70 ekor unta. Setiap ekor unta ditunggangi secara bergantian oleh dua atau tiga orang. Mereka tidak mengetahui tentang keberangkatan kaum Quraisy tersebut. Pada saat itu, Abu Sufyan dapat lolos dari bahaya dengan menyusuri mata air Badr ke arah Mekkah.
Setelah mendengar berita keberangkatan kaum Quraisy, Rosullullah saw segera meminta pandangan dari sahabat-sahabatnya saw. Kaum Muhajirin memandang baik dan mendukung beliau. Salah satu diantaranya adalah Al-Miqdad bin Amr dengan tegas menyatakan, “Ya Rosullullah, katakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada Anda. Kami akan tetap bersama Anda…”Akan tetapi, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam terus memandang ke arah kami seakan meminta keteguhan hati kami. Rosulullah saw sepertinya menginginkan jawaban di kala saat genting seperti ini. Kami berniat, “Demi Allah dan Rosul-Nya.”
Perang dengan perbandingan tidak seimbang tersebut akhirnya berkecamuk. Pasukan Islam dengan keyakinannya bahwa Allah swt tidak akan meninggalkan mereka, berperang dengan sekuat tenaganya. Islam akhirnya menang dengan gemilang yang menandakan awal perkembangan Islam selanjutnya.

b. Fathu Mekkah
Jelaslah kemenangan Islam merebut Mekkah dalam hal ini telah membuktikan bahwa kebenaran akan mengalahkan yang bathil. Pasukan nabi saw yang begitu besar mengagetkan umat Quraisy yang tinggal di Mekah. Nabi Muhammad saw telah membawa kemenangan bagi umatnya yang juga menandakan pula berakhirnya zaman Mekkah yang dipenuhi dengan berhala kepada Allah swt yang satu Tiada Tuhan selain Allah. Beranjak dari sanalah awal kemenangan-kemenangan untuk kebangkitan Islam yang selanjutnya dimulai.

c. Perang Pembebasan Yerusalem Zaman Umar ibnul Khattab
Kebanyakan orang Barat apabila ditanya mengenai tiga agama monoteistik, maka yang paling keras mereka akan meneriakkan: “Islam!”. Selama ratusan tahun, orang-orang Kristen Barat menganggap Islam sebagai “agama pedang”. Tetapi ini sungguh bukanlah kebenaran. Mari kita simak tentang proses perang salib, penulis hanya menukilkan kejadian tentang pembebasan Yerusalem.
Sekitar empat abad setelah perang salib pertama meletus, setelah terjadinyaperang yarmuk^, pasukan kaum muslimin melanjutkan ekspedisi ke seluruh negri. Pasukan utama Abu Ubaidah^ dan Khalid ibnu Al-Walid^ meneruskan gerakan mereka ke utara negeri Syam^, sementara itu kontingen pasukan Islam dibawah komando Amru bin Ash dan Syurahbil tetap bertahandi wilayah selatan negri Syam, yang meliputi Palestina dan Yordania.
Mengetahui islam meninggalkan Yarmuk, Artabus, Gubernur imperium Romawi Timur, Byzantium^, menghimpun pasukannya kembali ke Ajnadin dan mengadakan serangan balasan guna mengusir pasukan kaum muslimin yang ada di Suriah. Pertarungan palagan Ajnadin yang berlangsung di penghujung tahun 636 M berlangsung dengan ganas dan akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin. Artabunus dan sisa pasukannya kabur ke Yerusalem.
Dari Ajnadin, seluruh pasukan muslimin bergerak ke seluruh penjuru Yordania dan Palestina. Kota-kota Sabtah, Nablus, Bait-Jibril, dan lainnya^ berhasil dibebaskan oleh pasukan kaum muslimin. Pembebasan tinggal menunggu waktu. Kota suci bagi tiga agama itu dipertahankan dengan sangat kuat. Kota suci Yerusalem diliputi dengan benteng-benteng yang kokoh dan di sekitarnya digali parit-parit yag dalam dan terjal. Jika musuh menyerang, parit-parit itu tinggal diberi sulfur yang panas membara. Siapapun yang menyerang Yerusalem sungguh ia akan mendapatkan kerugian yang sangat banyak.
Saat pasukan Muslim mendekati Yerusalem di awal taun 637M, musim dingin masih menusuk tulang. Meski demikian, pengepungan dengan kota ini masih dikepung dengan sangat ketat. Amru bin Ash, panglima kaum muslimin di wilayah selatan, tidak tega pasukannya mengepung dengan kondisi kedinginan seperti itu. Ia ingin operasi pembebasan itu tidak berlama-lama dan segera dituntaskan. Amru bin Ash menulis sepucuk surat minta Abu Ubaidah untuk memberi bala bantuandi Suriah. Di Suriah, pasukan Abu Ubaidah sudah menaklukan seluruh utara Suriah dengan keseluruhan, sehingga bisa dengan ceat memberi bala bantuan ke selatan.
Berita kedatangan bala bantuan tersebut membuat kaum Kristen danYahudi di Yerusalem menciut. Mengingat Yerusalem adalah kota suci, kaum muslimin sebenarnya enggan menumpahkan darah di sana. Sementara itu, kaum Kristen yang sedang berindung tersebut, sadar bahwa kekuatan mereka tidak akan mampu membendung kekuatan islam. Menyadari hal tersebut, maka Patriach Yerusalem, Uskup agung Sophronius, mengajukan perjanjian damai. Perjanjian damai tersebut disambut baik oleh Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut damai tanpa pertumpahan darah sedikitpun.
Walau demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suc ini hanya akan diberikan kepada tokoh terbaik di antara kaum muslimin, yakni khalifah Umar bin Khattab Radiallahu anhu. Dia ingin Amirul Mukminin sendiri yang mendapat kehormatan tersebut. Biasanya, hal ini langsung ditolak oleh pasukan yang menang. Namun tidak demikian dilakukan kaum Muslimin. Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan perebutan Yerusalem oleh tentara Persia dua puluh tahun yang lalu di mana mereka melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Sebab itu, ia ingin Amirul Mukminin sendiri yang menjamin.
Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis tentara Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar ra di Madinah. Khalifah Umar segera membuat rapat majelis Syuro untuk mendapat nasehat. Utsman bin Affan beranggapan untuk tidakk perlu mengikuti tawaran tersebut karena pasukan Rmawi Timur sudah kalah dan pasti segera menyerahkan diri. Namun Ali bin Abi Thallib berpandangan lain. Menurut Ali, Yerusalem adalah kota suci tiga agama yakni Yahudi, Kristen, dan Islam, dan sehubungan dengan hal itu, maka alangkah baiknya apabila Amirul Mukminin sendiri yang mengambilnya. Kota itu adalah kiblat pertama kaum Muslimin, tempat singgah perjalanan Rosulullah Shallahu’alaihi wasalam pada saat beliau berisra’ dan dari kota itu pula beliau bermi’raj. Kota itu menjadi saksi hadirnya nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, Nabi Ibrahim as, dan Nabi Isa as. Umar ra akhirnya mengikuti pandangan Ali dan segera berangkat ke Yerusalem. Sebelum berangkat, ia ra mengangkat Ali untuk menggantikan tugasnya di Madinah selama dirinya tidak ada.
Kepergian Umar hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta yang ditungganginya secara bergantian.
d. Perang Salib
Perang salib dimulai karena perebutan kota Yerusalem sejak direbutnya wilayah itu dari kaum muslimin pada Juni 1099 M. Sehingga mengembalikan kedudukan Yerusalem kepada Kristen dan Yahudi. Penulis sedikit mencuplik tentang kejadian perang salib menjelang detik-detik kemenangan Islam oleh Solahudin Al-Ayyubi. Setelah kematian pemimpin Yerusalem bernama King Baldwin. Tampuk kepemimpinan berubah ke tangan Guy De Lusignan. Guy sendiri dalam keadaan perang melawan Islam karena serangan Reynald De Catillon ke Madinah apalagi ke Mekah telah membuat Islam berusaha menyerang kembali mereka.
Islam pada awalnya telah membuat strategi agar mengeluarkan mereka (pasukan Guy De Lusignan) dari Yerusalem dan merebut kota suci tersebut. Islam tidak mampu mengeluarkan mereka karena kuatnya pertahanan penuh Yerusalem.
Guy De Lusignan sendiri mengalami dilema. Ia telah mengikuti nasihat Raymund di tahun 1183 dan ia terikat, sebagai seorang raja feodal, untuk menolong para pengikutnya di Tiberias. Akibat sebuah pembantaian (Cresson), ia cenderung menjauh dari nasehat Reynald De Catillon yang berani untuk keluar melawan Islam tetapi cenerung kepada Reymund. Di akhir penghujung pertemuan dengan dewan perang, ia memutuskan untuk memihak Raymund. Sayangnya, ia selalu memperhatikan pertemuan terakhir apabila disampaikan dengan tegas. Larut Malam, Gerard dari Ridford (pahlawan “Cresson”), diam-diam mendatangi tenda Guy dan mencacinya habis-habisan karena mendengar nasihat pengkhianat, Raymund.
“Ini tugas pertama yang jatuh di tanganmu sejak kau diberi mahkota. Ketahuilah baik-baik, lebih dari sekedar melihat, bahwa para Knight Templar (kesatria kuil yang menyimpan sifat Yahudi di tengah-tengah kristen dan banyak ditemukan dalam buku The Da Vinci Code) akan meninggalkan jubahputih mereka (jubah mereka menggunakan jubah putih yang berlambang Salib) dan menjual serta menggadaikannya, jika penghinaan yang dilakukan oleh kaum Sarasin (Kaum Islam di Mesir, ketika mereka menyerang Mesir dan ditolong oleh Salahudin dengan pasukan yang berjumlah sangat besar) padaku dan mereka semua tidak dibalaskan. Pergilah dan umumkan ke seluruh tentara bahwa mereka semua harus mempersenjatai diri dan setiap diri harus mempersenjatai diri dan mengikuti sahabatnya untuk moral Salib Suci.”
Seperti biasa Guy melakukan apa yang dikatakan Gerard. Para tentara mulai mengatur diri dan pergi ke Tiberias. Salahudin seakan tidak percaya akan keberuntungannya melihat kaum tersebut jatuh begitu saja ke perangkapnya. Kristen telah mengubah mereka mengabaikan penalaran militer dan telah terdorong untuk berperang di atas panji mereka. Ketika itu kerajaan Yerusalem tidak terlindungi dan bisa dihancurkan dengan mudah.
Tentara Kristen berjalan menyusuri lembah-lembah Galilea yang panas terik, terbebani pakaian dan alat tempur mereka. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa jam sehingga membutuhkan waktu hingga sepanjang hari. Salahudin mengirimkan pemanah-pemanah jitu untuk mengintai barisan belakang mereka dan mengincar tentara yang terpisah sendirian.
Salahudin membendung persediaan air mereka dan banyak sumur dan mata air dikeringkan, sehingga para prajurit Kristen menjadi gila dari kehausan. Akhirnya mereka sampai kepada laut Galilea dan menyadari bahwa persediaan air mereka telah dihadang oleh pasukan Salahudin. Raja terus didesak untuk bertempur menembus penghadang itu oleh para baron (sejenis Uskup kecil)dan merebut danau, tetapi Guy tergetak oleh penderitaan para prajuritnya dan para knight templar untuk berkemah malam itu. Para Baron menyangka bahwa ada sebuah sumur di tempat perkemahan mereka, tetapi ketika mereka telah tiba, mereka mendapati sumur itu telah kering. Raymund dari Tripoli berteriak keras, “Ah, Tuhanku, perang telah berakhir. Kami telah mati. Kerajaan telah usai.”
Penderitaan tentara Kristen , kebanyakan dari mereka mengalami dehidrasi yang membahayakan, ditambah lagi tentara muslim yang membakar api unggun yang asapnya diarahkan keperkemahan mereka. Di sana, tentara Islam masih segard dan siap melihat kemenangan di depan mata mereka dan dalam genggaman mereka.
Akhirnya, pada tanggal 3 Juli malam itu, bertpatan dengan malam 17 atau 27 Ramadhan, malam tersuci dalam kalender muslim, karena saat itulah nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama dari Tuhan. Seperti dikatakan Al-Qur’an, malam lailatul Qodar ini lebih baik daripada seribu bulan.
“Pada malam itu turun malaikat dan malikat Jibril dengan izin Tuhan untuk mengatur semua urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan hingga terbit fajar” (QS Al-Qodar [97]:4-5).
Sementara mereka menunggu fajar tiba, para lelaki pasukan Salahudin menanti-nanti hukum Allah. Sekretaris dan wakil Solahudin Al-Ayubi, Imadudin al-ishfahani memandang malam Qodar tahun itu sebagai pemisah antara yang bathil dan yang benar :
“Malam memisahkan kedua sisi dan kavaleri memisahkan kedua jalan. Islam melewati malam itu berhadapan dengan kaum tak beriman, jalan Allah melawan jalan Trinitas, jalan kebenaran memandang rendah kesalahan, iman menentang politheisme. Sementara beberapa tempat di neraka menyiapkan diri dan beberapa tempat di Surga member selamat untuk mereka sendiri. Malik [penjaga neraka] menanti dan Ridwan [penjaga surge} bergembira.”
Kristen memandang ada makna Ilahiah yang penting pada tanggal penaklukan Islam pada tahun 1099. Jihad ini bukanlah perang biasa para prajurit Allah pimpinan Salahudi, tetapi sebuah perang besar dan tindakan besar sejarah dunia.
Setelah fajar mengakhiri malam Lailatul Qodar, serangan tentara muslim dimulai. Infantri Kristen hanya bisa memikirkan air yang tampak dari laut Galilea. Mereka dihalau kembali ke pinggir lembah, dibunuh dan ditawan. Ratusan berbaring di pinggir lembah dengan mulut terluka dan bibir pecah-pecah. Raymund dari Tripoli berhasil mendobrak tentara muslim, tetapi mereka dihalau kembali dengan kepungan barisan di belakang mereka.Raymund berhasil lolos namun akhirnya meninggal dengan penuh amarah dan kedukaan bahwa selama ini Tuhannya tidak menolongnya. Balian dari Ibelin juga berjuang keras untuk keluar dari perang dan dia menjadi Kristen terakhir yang keluar. Pada saat itu Salahudin tahu ketika melihat kemah di Tanduk Hittin bahwa itulah tempat raja berlindung. Pada saat itu Salahudin tahu bahwa impiannya menjadi kenyataan. “Ayahku turun dari pelana kuda dan bersujud kepada-Nya,” kenang Afdhal, “bersyukur kepada Allah dengan tangis bahagia.” Tentara Kristen kalah telak dan Kerajaan Yerusalem telah tumpas.
Setelah pertempuran, Salahudin mendapat dua tawanan perang penting yang langsung dibawa ke tenda: Raja Guy De Lusignan dan Reynald De Catillon. Salahudin memberi sekantung air yang berasal dari gunung Hemon kepada Guy, yang kemudian meminumnya, dan memberi kantung itu kepada Reynald. Menjadi kebiasaan masyarakat Arab bahwa seorang tuan tidak boleh membunuh orang yang telah diberi makan dan minum. Ketika ia melihat Renald minum, ia menegaskan ia tidak memberi izin ia untuk minum.”Karena itu tidak usah untuk memberi belas kasihan,” kata Salahudin. Salahudin kemudian mengambil pedangnya dan kemudian memenggal leher Reynald. Kemudian Reynald diseret ke kaki Guy, sehingga ia ketakutan. Namun kepada Reynald, seorang raja tidak boleh membunuh raja lain dan dia tegaskan baik-baik bahwa Renald hanya dieksekusi karena telah melakukan kejahatan dan pengkhianatan yang begitu besar. Guy kemudian dibawa ke Damaskus sebentar kemudian dibebaskan.
Peperangan dilanjutkan ke Yerusalem dengan mengerahkan pasukan Salahudin menuju Yerusalem setelah kemenangan melawan pasukan Guy De Lusignan dan Reynald De Catillon. Yerusalem kala itu tinggal di ujung tanduk, hanya menunggu beberapa langkah saja tentara Muslim mampu menguasai Yerusalem. Penduduk di sana sedang berada dalam kekalutan di tengah tidak ada orang yang cakap dalam memimpin pasukan tersebut. Di luar, tentara Muslim menunggu supaya penduduk menyerah dan pergi meninggalkan Yerusalem secara tenang. Di luar pun, Balian dari Ibelin meminta izin kepada Solahudin Al-Ayyubi untuk masuk ke dalam untuk waktu satu malam dengan janji hanya ingin bertemu Isabella yang seorang ratu Yerusalem. Ketika di dalam Balian didesak oleh rakyat Yerusalem untuk memimpin peperangan melawan tentara Islam. Melihat kondisi itu, Balian dari Ibelin keluar untuk bertemu dengan Solahudin dalam hal menanyakan pendapatnya tentang kondisi rakyatnya tersebut. Solahudin pun memandang dan memutuskan untuk melepas ikatan janji Balian yang sebelumnya hanya untuk menemui Isabela menjadi seorang panglima perang Yerusalem untuk mempertahankan benteng Yerusalem.
Perang antara dua pemimpin yang menjunjung tinggi moral ini pun bergejolak dan menghasilkan sebuah perang pertahanan yang sangat penting dalam sebuah peradaban di masa yang akan datang. Islam pun menang dengan baik tetapi setelah pemimpin musuh, yakni Balian dari Ibelin meminta Solahudin Al-Ayyubi untuk membebaskan mereka tanpa syarat. Kemenangan ini adalah kebaikan terbesar bukti dari perjanjian-perjanjian Islam selama ini. Islam menang dengan tanpa membumbungkan dan mengucurkan banyak darah di kota suci awal kiblat umat Islam tersebut. Iman kala itu menang melawan kekafiran dan kini menjadi tema besar dalam kehidupan sejarah Yahudi, Islam, maupun Kristen. Inilah kebangkitan Islam yang menjadi sejarah panjang peradaban hingga saat ini.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://khalifahkita.blogsome.com/2007/11/27/kebangkitan-islam-yang-pertama-dalam-segi-peperangan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Ben de Groot